Sunday, February 15, 2026
spot_img
HomeKulturalKampung Gunung Sangihe: Jejak Zendeling Steller, Kepercayaan Sundeng dan Negeri Yang Tak...

Kampung Gunung Sangihe: Jejak Zendeling Steller, Kepercayaan Sundeng dan Negeri Yang Tak Tersentuh Wabah Kolera

Penulis: Arfin Tompodung

Masyarakat menyebutnya Kampung Gunung. Wilayah perbukitan yang ada di Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sebuah pemukiman di balik ramainya pepohonan. Udara sejuk, suasana tenang namun menyimpan banyak kisah dan peninggalan.

Di daerah itu berdiri rumah sejak masa zendeling Ernst Traugott Steller. Tempat ini dibuka misionaris Steller dalam rangka pemuridan. Di situ mereka tak hanya belajar tentang kekristenan tapi juga dilatih menjadi tukang.

“Tempat itu dibangun oleh Steller. Steller tinggal di situ. Steller katanya kalau dari sini ke Manganitu naik kuda. Di tempat itu dijadikan kegiatan pemuridan dan pertukangan. Jadi mereka dilatih,” ungkap Dharman Agama, Kamis (8/1/2026), masyarakat Kampung Gunung yang masih merekam cerita itu.

Kegiatan pemuridan itu terus berlanjut yang dikemudian hari ditangani pihak Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST). Pelatihan di tempat itu berakhir di sekitar tahun 1995 dan 1996. “Terakhir sampai ke Matias Beck sekitar tahun 95 dan 96,” kata Dharman.

Rumah tersebut sempat terabaikan dan tak terurus. Akhirnya kemudian dipugar dan dimanfaatkan seperti balai pertemuan. “Bangunan di sana sudah bukan aslinya, sudah dipugar sekitar dua tahun lalu,” jelasnya.

Agustaf Tamatompo peneliti sejarah gereja di Sangihe menjelaskan, Steller tiba di pantai Manganitu pada tanggal 25 Juni 1857. Dia diutus badan misi yang bernama Zendeling Werkman bersama rekan lainnya W L M Schroder, F Kelling dan A Grohe. Arti dari Zendeling Werkman diterjemahkan menjadi Zendeling tukang.

Foto Ernst Traugott Steller.

“Lembaga zending ini didirikan oleh Ds Otto Gerhard Heldring. Ia memiliki konsep bahwa orang yang diutus untuk menjadi Zendeling adalah para pemuda yang tangguh, sekaligus tukang yang terampil yang dapat dipersiapkan dengan gampang dan perjalanannya dapat dibiayai, namun setelah sampai di wilayah zending ia harus bisa membiayai hidupnya sendiri,” jelas Tamatompo.

KALEANG GARING DAN KEPERCAYAAN SUNDENG

Dahulunya wilayah sekitar rumah pertukangan yang didirikan Steller, dikenal dengan sebutan Kaleang Garing. Di area itu sebelumnya menjadi tempat ritual agama tua masyarakat Sangihe.

Luasunaung Meloke selaku penjaga rumah pertukangan peninggalan Steller mengatakan, ‘Kaleang Garing’ memiliki arti ‘bambu kuning’. Kemungkinan besar menurutnya karena di lokasi itu terdapat jenis tanaman bambu kuning.

Di Kaleang Garing ini orang-orang Sangihe dulunya melepas sesajen. Tempat itu dipercaya punya spiritual yang sangat kuat. Posisi tempat mereka meletakkan sesajen menurut Meloke, tidak bisa diketahui lagi.

“Mereka anggap kata ini paling besar di sanger. Paling besar mungkin maksudnya paling ampuh jawabannya, mereka meminta segala berkat begitu, di sini yang lebih ampuh dia punya jawaban,” ungkap Meloke.

Sementara itu, berdasarkan penuturan Dharman Agama, masyarakat yang melakukan aktivitas ritual di Kaleang Garing disebut dengan penganut kepercayaan Sundeng. Sundeng menurutnya adalah agama tua orang Sangihe yang punya ritual tentang pengorbanan manusia. Namun sejak Steller mendirikan rumah pemuridan dan pertukangan di situ, tempat mereka melakukan aktivitas ritual akhirnya berpindah.

“Namanya kan Kaleang Garing, tempat agama Sundeng, agama tua di Sangihe. Itu kan yang anak dikorbankan,” kata Dharman.

POHON KARET KAMPUNG GUNUNG: SUMBER AIR DAN RUMAH BERMACAM SATWA

Area Kampung Gunung juga terdapat pohon karet yang ditanam oleh zendeling Steller. Kini tanaman itu telah menjadi rumah berbagai satwa dan dilindungi.

Dharman Agama mengatakan, Steller menanam pohon karet itu tujuannya sebagai sumber air. Karet tersebut bukanlah jenis yang untuk disadap. “Itu pohon karet tanaman Steller untuk air. Sebagai sumber air. Itu karet hutan. Beda dengan karet yang disadap. Kalau karet yang disadap dia batangnya satu-satu,” kata Dharman.

Salah satu pohon karet di kampung gunung tepat di sebelah rumah pemuridan yang didirikan Steller

Pohon karet yang ditanam Steller di kampung gunung itu jumlahnya cukup banyak. Semua karet itu kini dilindungi guna menjaga keberadaan sumber air. “Tidak ditebang karena pohon itu dilindungi dan karena mata air. Pohonnya ada banyak sampai di bagian bawah jalan. Pohon karet itu pernah ada orang yang memotong cabangnya kemudian ditegur polisi kehutanan,” jelasnya.

Luasunaung Meloke mengungkapkan, pohon karet itu dilindungi karena juga dihuni berbagai macam satwa. Pada malam hari, pohon itu didiami hewan tarsius, kuskus dan juga kelelawar. Kemudian di siang hari terdapat berbagai jenis burung yang datang bernaung di pohon tersebut.

Meloke juga menceritakan tentang aktivitas burung putih di pohon karet itu atau dalam bahasa Sangihe disebut ‘puntieng’. Burung puntieng akan datang di pohon karet itu pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA. Puntieng akan jalan-jalan cari makanan seperti buah pala. Dia selanjutnya akan kembali pulang pada sore hari sekitar pukul 15.30 WITA ke sebuah pulau yang berhadapan dengan Desa Petta, Kecamatan Tabukan Utara. Menurut Meloke, ada juga sebuah pulau di wilayah tersebut yang menjadi tempat burung puntieng membuang biji pala dan dipanen oleh masyarakat.

“Di pulau itu, biji pala yang mereka makan dibuang kemudian dipanen warga yang ada di sana. Di Pulau Karang itu tidak ada penghuni, di sana ada beberapa kampung itu yang bergantian panen pala (biji pala yang dibuang burung puntieng),” ucapnya.

Lanjut Meloke, biasanya masyarakat yang pergi berkebun di daerah Kampung Gunung itu menjadikan burung puntieng sebagai penanda waktu untuk pulang. Bila ada burung puntieng yang kembali pulang, itu berarti sudah sore hari.

“Kalau orang pergi berkebun kemudian bertanya sudah jam berapa ini, tapi tidak ada jam, lihat saja kalau ada burung putih, puntieng, waktu berarti sudah setengah empat (pukul 15.30 WITA),” ucapnya.

BELLA’E

Ada suatu wilayah di Kampung Gunung bernama Bella’e. Asal usul penyebutannya berkaitan dengan peristiwa wabah kolera yang terjadi di Sangihe.

Sekitar tahun 1908 wabah kolera menyerang daerah Sangihe. Namun sebuah wilayah yang ada di Kampung Gunung tidak terkena wabah penyakit tersebut.

“Tahun 1908 pernah wabah penyakit kolera. Jadi daerah Bella’e sana noh yang tidak kena,” kata Dharman Agama.

Gereja GMIST Bellae

Daerah itu kemudian diberi nama Bella’e karena tidak terkena wabah penyakit kolera. Bella’e berarti di ‘antara’. Hal itu karena wilayah itu ada di antara wilayah lain yang terserang wabah kolera.

“Bellae itu artinya di antara penyakit musibah. Karena terhindar dari wabah itu noh. Mungkin mereka merasakan tentu tidak kena. Misalnya, ada dua tempat di sini kena, di sini kena tapi di sini tidak kena,” ujarnya.

Area yang tidak tersentuh wabah kolera itu tepatnya di wilayah sekitaran gereja GMIST Sion Bella’e. Pada masa kejadian wabah kolera, sudah ada masyarakat yang bermukim di situ. Mereka adalah orang-orang yang datang dari Manganitu.

“Sejarahnya penduduk gunung ini dari Manganitu dari desa Mala yang datang berkebun karena logatnya Manganitu,” ucapnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments