Minut, MKS
Masyarakat dan pemerintah Desa Mapanget, bersama para pegiat budaya melakukan upacara adat Mera Waruga untuk menyelamatkan waruga milik Opo Tu’uk yang terancam rusak. Leluhur ini adalah pendiri wanua atau negeri Mapanget.

Upacara adat pemindahan waruga ini dilakukan, Sabtu (21/2/2026), di Desa Mapanget, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara. Penyelamatan situs budaya waruga Opo Tu’uk merupakan inisiatif serta kerja sama masyarakat dan pemerintah Desa Mapanget. Di dalamnya melibatkan Lembaga Adat Desa Mapanget, pemerintah desa, masyarakat Mapanget dan komunitas budaya Mapanget Wuaya. Turut hadir dalam kegiatan pemindahan waruga, Pelaksana tugas Hukum Tua Desa Mapanget Yulin Kaunang, Ketua Adat Desa Mapanget Richard Umboh, Ketua Karang Taruna Mapanget Wuaya Topan Lengkong, Tonaas Angga Maramis selaku Ketua 1 Panitia Mera Waruga Wanua Mapanget dan Jefri Smith Ketua sebagai 2 panitia Mera Waruga Wanua Mapanget dan Tonaas Rinto Taroreh.

Pegiat budaya Rinto Taroreh dari komunitas Waraney Wuaya mengatakan, upacara adat tersebut untuk memulangkan kehormatan sang pendiri wanua Mapanget.

“​Bukan sekadar batu, bukan sekadar makam. Waruga yang kami pindahkan adalah kediaman abadi dari leluhur kami, Opo Tu’uk, salah satu pendiri negeri, wanua Mapanget. Ia adalah akar, sosok yang pertama kali membuka jalan bagi berdirinya wanua Mapanget,” ungkap Taroreh.
Taroreh bersama pada pegiat budaya sangat teriris melihat kondisi asalnya yang sungguh tidak layak bagi seorang pendiri negeri. Waruga itu terhimpit akar pohon durian, berbatasan langsung dengan dinding kandang ayam.
“Bahkan di dalamnya sempat terisi sampah plastik dan pecahan kaca jendela sebagai sisa-sisa pengabaian zaman. Ditambah lagi luka sejarah saat waruga ini dijarah sekitar tahun 1970-1990-an,” ujar Rinto.

Lanjutnya, lewat prosesi Mera Waruga ini maka mereka memindahkan ke tempat yang paling layak yaitu di depan Balai Desa. Posisi ini dinilai Taroreh sebagai tempat yang terhormat dan berada di jantung aktivitas masyarakatnya sendiri.
“Ini adalah wujud nyata penghormatan kami. Di tempat yang terhormat ini, seluruh anak cucu bisa melihat dan mengenang jasanya dengan rasa bangga, bukan lagi dalam keadaan terhimpit sampah,” ungkapnya.
“​Langkah ini adalah pesan bagi generasi depan: Jangan biarkan sejarahmu terkubur pengabaian. Muliakanlah akar darimana kamu berasal,” tambahnya. (arfin tompodung)





