Manado, MKS
Spirit kader partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Sulawesi Utara (Sulut) dibakar. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hanura Benny Ramdhani mendorong semangat anggota partai untuk melakukan perubahan.
Hal itu disampaikannya saat mengukuhkan Pengurus Partai Hanura se-Sulut Periode 2026-2031 di MIcon Manado, Kamis (18/6/2026). Ketika itu Sekjen Benny dalam orasi politiknya memberi penguatan terhadap kader Hanura yang datang dari pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Pengurus Anak Cabang (PAC).
Bagi Benny, Partai Hanura merupakan salah satu bagian dari peta politik nasional. Hal ini tentu memiliki peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Kami meyakini bahwa dengan kerjas ama yang baik antar partai politik dan para pemangku kepentingan lainnya, kita akan mampu menciptakan perubahan yang lebih baik bagi Sulawesi Utara tercinta, dengan keberagaman agama yang menjunjung nilai-nilai budaya dan toleransi, kerukunan sangat dekat dengan hidup damai,” kata Benny.
Dirinya mengapresiasi Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay yang boleh hadir mewakili Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Seraya mengakui sepak terjang wagub dalam kancah perpolitikan.
“Kehadiran jajaran Pemerintah Provinsi Sulut kami juga mengapresiasi teman baik kami di DPRD Sulut, politisi hingga menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Utara Doktor Viktor Mailangkay, perjalanan kariernya sebanyak tujuh periode duduk sebagai anggota DPRD bisa di kata politikus senior,” ujarnya.
Benny mengatakan, dirinya memahami politik di daerah ini. Bahkan ada kader-kader yang mengatakan kepadanya terima kasih karena telah berkunjung di Sulut.
“Namun saya mengatakan bahwa saya tidak berkunjung ke Sulut namun saya pulang kampung,” kata Benny yang disambut tepuk tangan meriah kader partai.
Lanjutnya, sejarah peradaban bangsa ini membentuk landscape politik sosial masyarakat. Ketika mendengar konflik politik identitas di Sulut itu bukan ancaman melainkan kekuatan. Baginya, ini menunjukkan sebuah keberagaman dan kerukunan di Sulut.
“Di sini Sulawesi Utara perbedaan tidak selalu menghadirkan pertentangan, dan banyak kita lihat di Indonesia masyarakat yang terjebak dengan polarisasi. Intinya, polarisasi tidak hilang seketika, tapi bisa dikurangi secara bertahap lewat komunikasi yang baik, informasi yang benar dan kegiatan yang mempersatukan, jangan menyebarkan hoax,” tuturnya. (arfin tompodung)





