Manado, MKS
Sejumlah komunitas melaksanakan kegiatan camping di Bumi Kilu, Kelurahan Paniki Satu, Kota Manado. Tak hanya berkemah, mereka juga melakukan diskusi yang salah satu topiknya berbicara tentang kepercayaan orang Minahasa berkaitan dengan alam.
Kegiatan ini digelar Jumat (12/12/2025) hingga Sabtu (13/12/2025), di Taman Literasi KPS 81 dengan tema ‘Menjaga dan Melestarikan Alam dalam Bijak Minahasa’. Adapun komunitas-komunitas yang terlibat dalam giat ini dari Mapatik, Wale XI, KPS 81, Talun Kentur, Wa’Sa Lab, Tamang Bae Lingkungan dan Kelung. Selain diskusi, ada juga pentas musik tradisi hingga baca puisi sambil menikmati alam yang menyediakan sungai, pepohonan dan mata air.

Salah satu diskusi berbicara mengenai Kosmologi Minahasa yang dibawakan Rikson Karundeng. Rikson menjelaskan, orang Minahasa dalam kepercayaannya ketika terjadi bencana tidak menyalahkan Tuhan, leluhur atau alam tapi manusia itu sendiri. Maka dari itu orang Minahasa selalu ada kesadaran untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, manusia, alam, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
“Mereka terus menggelar ritus untuk terus membangun hubungan yang harmonis dengan alam, sesama manusia termasuk Tuhan,” kata Rikson.

Lanjutnya, orang Minahasa percaya bahwa di setiap tempat itu sudah ada pemiliknya. Jadi saat berada di suatu tempat harus meminta izin dulu. Praktik itu juga dilakukan bila membuka kampung. Orang Minahasa yang mendirikan kampung biasanya hanya dua hal yakni pertama apabila di kampung yang sebelumnya sudah padat sehingga mereka membuka kampung baru dan kedua bila terjadi wabah.
“Proses pindah itu mereka meihat waktu, bulan yang tepat untuk mereka mau pindah. Mereka melihat apakah ini cocok untuk mereka jadikan tempat tinggal. Kalau untuk mengantisipasi ancaman orang dari luar maka mereka melihat posisi kampung,” ungkapnya.
Dalam membuka kampung juga orang Minahasa harus melihat tanda dari burung atau tanda alam lainnya yang sebagai penanda direstui Sang Khalik. Karena untuk membuka kampung mereka terlebih dahulu perlu meminta dari Tuhan. Paling penting lagi ketika akan membangun kampung, orang Minahasa akan mempertimbangkan air.

“Faktor penting membangun kampung di orang Minahasa atau rumah itu mempertimbangkan air. Dalam tradisi itu tidak pernah mereka taruh sungai itu di belakang rumah posisinya. Di sungai itu selain mereka dapat ikan, udang dan yang paling penting air. Kenapa penting karena semua ritus itu ada air,” jelasnya.
“Air itu, tempat-tempat seperti itu adalah ‘Kapelian. Atau orang Tombulu bilang Kaopoan. Di situ tempat berdiam para apo, roh-roh suci atau mu’ukur leos,” tuturnya.
Menurutnya, tempat-tempat yang disebut Kaopoan seringkali salah dipahami, seperti menganggap itu hanya kepercayaan takhayul. Namun justru di tempat-tempat seperti itu ada pengetahuan yang disimpan para leluhur. “Yang justru itu yang membuat alam tetap terjaga,” katanya. (Arfin)





