Manado, MKS
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Cindy Wurangian mendesak agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan peternak babi di Sulut. Jangan sampai keuntungan hanya dinikmati pihak luar saat harga daging babi sedang tinggi.
Cindy menjelaskan, kondisi daging babi saat ini sedang menurun jauh dibandingkan sebelumnya. Diuraikannya, pada bulan Januari 2025 harga daging babi masih berada di Rp85 ribu per kilogram namun sekarang sudah di angka Rp49 ribu.
“Kalau lalu diteriak-teriakkan menyumbang inflasi terbesar di Sulut, situas saat ini terbalik. Harga daging yang bulan Januari Rp 85 ribu. Minggu lalu Rp 50-an ribu sekarang R49 ribu,” kata Cindy dalam pembahasan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulut antara Pansus DPRD Sulut. dengan Pemprov Sulut, Jumat (1/8/2025), di ruang rapat paripurna DPRD Sulut.
Menurutnya, siklus ini sudah kelihatan namun tinggal bagaimana pemerintah memberikan perhatian. Peternak Sulut harus mendapat keuntungan saat harga daging sedang tinggi bukannya pihak luar.
“Karena sudah dibuka perdagangan antar provinsi dan negara maka Dinas pertanian dan peternakan perlu memberikan perhatian lebih, agar ketika harganya tinggi yang menikmati peternak Sulut. Bukan harga tinggi yang menikmati orang luar. Ketika harga tinggi masyarkaat berbondong-bondong beternak tapi saat mau panen harganya sudah anjlok,” ucapnya.
Cindy mempertanyakan peran Distanak saat harga daging babi mulai anjlok.
“Banyak yang mengeluh sudah dari tahun ke tahun, sebelum masuk virus ASF juga saya sudah peringatkan karena di beberapa provinsi sudah kena tapi tidak ada langkah konkrit dari pemerintah Sulut Daging babi pendongkrak ekonomi di Sulut maka harus dapat perhatian pemerintah,” ucapnya.





