MANADO, MKS
Kabar adanya warga Sulawesi Utara (Sulut) yang terlantar di Kamboja memantik keprihatinan Anggota Komisi I Dewan Perwakila Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Hillary Tuwo. Terkait dengan persoalan tersebut, legislator daerah pemilihan (dapil) Minahasa Utara (Minut) dan Kota Bitung pun memberikan tanggapannya.
Tuwo mengungkapkan, dirinya turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan masyarakat Sulut dikabarkan sempat terlantar di Kamboja. Maka dari itu, personil komisi bidang hukum, hak asasi manusia (HAM), politik dan pemerintahan ini mengungkapkan, peristiwa tersebut tentunya menjadi pelajaran bagi masyarakat Sulut maupun pemerintah. Kepada masyarakat dirinya mengimbau agar berhati-hati untuk menerima tawaran kerja di luar negeri. Apalagi hal itu sebelumnya sudah diingat-ingatkan kepada masyarakat agar jangan cepat tergiur.
“Seharusnya dijadikan pelajaran bagi kita, begitu pun dengan pemerintah. Pak Jokowi (Joko Widodo) juga pernah bilang hati-hati masyarakat kalau ada tawaran pekerjaan di luar negeri. Apalagi untuk masyarakat, kalau ada tawaran kerja di luar karena membutuhkan uang dengan tawaran gaji besar sehingga tergiur,” himbau Hillary, Selasa (11/3/2024), di kantor DPRD Sulut.
Selanjutnya, dirinya meminta agar pemerintah tegas terkait dengan adanya tawaran-tawaran kerja ke luar negeri. Perlu ada warning pemerintah terhadap tawaran-tawaran pekerjaan yang tidak jelas atau ilegal.
“Pemerintah mempertegas kalau ada tawaran kerja di luar negeri yang tidak jelas dan ilegal. Sebaiknya diwarning,” tegas politisi Partai Solidaritas Indonesia.
Kemudian menurutnya, terkait status warga di sana, dirinya mengajak untuk menyerahkan persoalan itu ke pihak berwenang. Dirinya berharap, ada upaya dari pemerintah untuk bisa memulangkan mereka. Terlepas dari legal atau tidaknya mereka di sana namun kejadian itu sudah terjadi maka perlu ada upaya untuk membawa mereka kembali.
“Yang pasti namanya warga kita di Sulut, pemerintah tetap mendampingi. Apalagi secara administrasi paspor mereka tidak dipegang. Pemerintah tetap dampingi. Kalau boleh mereka bisa pulang sampai di tempat asalnya,” harap Hillary. (arfin tompodung)





