Manado, MKS
Meski selalu dilarang pemerintah, masih ada saja kejadian warga Sulawesi Utara (Sulut) yang direkrut untuk diberangkatkan ke Kamboja. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Stela Runtuwene pun buka suara. Pemerintah diminta mengusut tuntas pihak-pihak yang melakukan perekrutan masyarakat Sulut untuk dikirim ke Kamboja.
Stela menegaskan, bilamana ada perekrutan masyarakat Sulut untuk diberangkatkan ke Kamboja maka berarti ada orang yang merekrut warga Sulut untuk ke Kamboja. Maka ia meminta agar diusut tuntas mereka yang merekrut orang-orang ini untuk dibawa bekerja di Kamboja.
“Karena masyarakat itu, apalagi sekarang dengan ekonomi yang lagi susah-susah cari pekerjaan, susah dapat uang, jadi mereka gambling keluar negeri, diiming-iming untuk dapat uang yang lebih. Otomatis masyarakat yang lagi susah mempertaruhkan nyawa mereka untuk ke Kamboja,” ungkap Stela, Senin (8/9/2025), di ruang kerjanya.
Lanjutnya, berangkat ke Kamboja saat ini dilarang pemerintah karena banyak sekali kejadian masyarakat pergi masih ada nyawa namun pulang tinggal bawa nama atau sudah meninggal. Maka dari itu ia meminta persoalan ini diusut hingga tuntas.
“Siapa yang menjadi perekrut di Sulut, pasti ada jejaknya, kan kita bisa tarik benang melalui orang-orang yang kita gagalkan keberangkatan ini. Dia itu diajak siapa. Siapa-siapa yang mengajak dia. Jaringannya ini siapa,” ujarnya.
Dirinya juga menghimbau masyarakat Sulut jika ada ajakan ke luar negeri terutama Kamboja agar berpikir berkali-kali lipat. Hal itu karena negara tersebut tidak aman. “Karena sudah banyak contoh dari berita-berita yang ada kita pergi masih sehat, pulang sudah sakit masih bisa lolos tapi ada pulang tanpa nyawa,” ucapnya.
Dalam hal ini menurutnya, perlu saling mengingatkan, apabila ada ajakan ke luar negeri maka harus diketahui dulu agen yang mengajak mereka dari negara mana dan pekerjaannya seperti apa.
“Jangan kita tergiur dengan gaji besar bukan bantu untuk keluarga malah kita jadi mesin uang. Karena kalau sudah di sana keluarga akan ditelpon, kalau tidak kasi uang maka anaknya akan dibunuh jadi itu pemerasan. Keluar uang lagi akhirnya keluarga yang jadi korban. Masyarakat diminta jadi lebih bijaksana lagi,” tuturnya.
Diketahui sebelumnya, Senin (8/9/2025), Polres Manado mengamankan sekitar 14 orang yang diduga akan diberangkatkan di Negara Kamboja.





