Minsel, MKS
Puluhan ribu ikan di kolam milik Alan Jacob (32) warga Desa Tumpaan Dua, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan mati misterius. Saat menelusuri sungai yang mengaliri kolam ikannya, Alan menemukan air yang berwarna putih seperti santan.
Lokasi ternak ikan tersebut terletak di perkebunan Ranontenga antara Desa Matani dan Kapoya, Kecamatan Tumpaan. Kejadian tersebut bermula, Selasa (5/8/2025) sekitar pukul 11.00 wita. Saat itu Alan melihat kondisi air seperti mulai berubah. Kemudian ia melakukan pengecekan ke aliran air yang lebih ke atas.
“Saya liat sudah putih lagi semua airnya. Saya cek juga air di sungai besar, ini kan aliran sungai besar dia berbagi dua airnya. Air di sungai besar itu saya lihat juga sudah putih semua airnya,” ungkap Alan, Kamis (7/8/2025).
Alan menjelaskan, setelah melakukan pengecekan ia pulang untuk makan siang karena air di kolamnya belum putih seperti air yang ada di atas. Selanjutnya, pukul 13.00 wita, orang kerjanya telepon, ikannya tampak mulai khayal.
“Jadi saya naik ke lokasi dengan ayah saya dan saya lihat posisi ikan sudah seperti itu. Air seperti ada putih seperti santan,” ujarnya.
Pada hari Selasa itu, sebagian ikan sudah mati. Nanti pada Rabu (6/8/2025), semua ikan ditemukan mati dan mengambang.
“Kami sempat pergi ke perusahaan kelapa dekat dengan rumah saya tapi kami hanya berbicara dengan security. Security katakan masalah limbah sudah diserahkan ke pihak ketiga karena security sudah jawab seperti itu kami langsung pulang ke rumah. Kami kemudian mengadukannya ke polres Minsel,” ungkapnya.
Menurutnya, sejak 15 tahun mereka berusaha ternak ikan di lokasi itu, kejadian tersebut baru kali ini terjadi. Jumlah ikannya yang mati sekitar 85.000 dari ukuran kecil hingga besar yang akan dipanen Desember 2025.
“Jumlah ikan sisa sortiran waktu pengucapan yang akan panen Desember 2025, sebanyak 20.000 lebih. Kalau bibit tambahan ikan mujair 60.000 dan ikan mas 5.000. Estimasi semua 85.000 campur bibit kecil sampai besar,” katanya.
Ia menyesalkan ikan yang jumlahnya 20.000 lebih yang akan panen bulan Desember. Ia mengalami kerugian ratusan juta dengan kejadian itu. “Kerugian saya kalau pendapatan panen di Desember berkisar Rp200 hingga Rp300 juta. Tapi kalau kerugian saat ini kisaran Rp100 juta,” ujarnya.
Ia mengatakan, ikan-ikan di kolam tersebut sudah diangkat karena sudah membusuk, takutnya akan ada penyakit. Dirinya menunggu itikad baik dari perusahaan yang diduganya membuang limbah. Seraya berharap ada tindakan juga dari pemerintah.Â
“Dinas lingkungan hidup sudah turun mengecek,” tuturnya. (tim mks)





