Manado, MKS
Cuaca panas berkepanjangan mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian di sejumlah wilayah Sulawesi Utara (Sulut). Kondisi ini dinilai perlu segera diantisipasi pemerintah agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Anggota Komisi I DPRD Sulut, Henry Walukow, mengatakan sejumlah desa mulai mengalami kekeringan. Kondisi tersebut ditandai dengan mulai mengeringnya sumur warga dan terbatasnya ketersediaan air bersih.
“Banyak desa-desa yang sudah mulai kering, sumur-sumur mulai kering, PDAM-nya (Perusahaan Daerah Air Minum) mulai terbatas,” kata Walukow saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor DPRD Sulut, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, dampak panas panjang tidak hanya dirasakan dari sisi ketersediaan air, tetapi juga mulai memengaruhi sektor pertanian. Hasil produksi pertanian disebut mengalami penurunan, bahkan sebagian mengalami kegagalan panen.
“Ditambah lagi, hasil panen pertanian sekarang kan sedikit, banyak yang gagal. Nah, ini tentunya jadi potensi krisis yang harus diantisipasi oleh pemerintah daerah provinsi,” ujarnya.
Walukow menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah konkret untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya melalui terobosan dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Harus ada terobosan-terobosan, misalnya pengadaan air bersih dan lain sebagainya, baik dari provinsi maupun kabupaten kota yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan keterbatasan air bersih mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah antisipatif sebelum kondisi tersebut semakin meluas.
“Kasihan, banyak masyarakat yang sudah menjerit menyangkut kekurangan air bersih,” pungkasnya. (arfin tompodung)





